“Menemukan Diriku di dalam Sesamaku”

Seorang yang sederhana, tulus, ramah, lemah lembut dan penyayang itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Ibu Wagina, seorang warga asli Desa Pentingsari. Wanita kelahiran tahun 1966 ini sekarang telah berkeluarga dan dikaruniai 4 orang anak laki-laki. Putra sulungnya bernama Hariwahyudiono, putra keduanya bernama Eko Hardianto, putra ketiganya bernama Rahman Sujadmiko, dan yang bungsu bernama Rahman Prasetyo. Ibu Wagina telah tinggal di Desa Pentingsari sejak lahir dan menjalani masa kanak-kanak hingga masa dewasanya di desa ini.

Dibalik sosok lemah lembut dan penyayangnya, beliau memiliki jiwa yang semangatnya tinggi. Seperti moto hidupnya yang diambil dari berbagai peristiwa hidup yaitu “Selalu Semangat”. Beliau sempat bercita-cita menjadi seorang guru  namun tidak terwujud karena masalah ekonomi keluarganya. Bertani adalah mata pencaharian Ibu Wagina yang ditekuni sampai saat ini. Meskipun sebagai petani, beliau tetap menunjukkan semangatnya bukan melalui perkataan dan cara bicara, tetapi melalui caranya dalam mengerjakan sesuatu dan juga melalui pengharapanya yang besar di dalam hidup.

Sepenggal kisah di atas merupakan refleksi pengalaman hidup yang dialami oleh siswa/siswi SMP Santa Maria ketika hidup bersama atau live in dengan masyarakat di Desa Pentingsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, selama 4 hari 3 malam. Kegiatan live in ini digunakan sebagai salah satu sarana proses pembelajaran nilai hidup dalam kerangka untuk pembangunan karakter setiap pribadi peserta didik yang terlibat langsung di dalamnya serta mengalami “belajar dari pengalaman”.

Pengalaman saat diajak oleh orang tua asuh atau induk semang untuk bercocok tanam, ikut menikmati makanan dari hasil kebun sendiri, suasana desa yang masih dipenuhi hijaunya pepohonan, sejuknya udara sepanjang hari terlebih pada pagi hari, sapa ramah masyarakat dan ungkapan cintanya yang sederhana, ketulusan, kebahagiaan yang tidak ditentukan semata-mata oleh materi, namun oleh rasa syukur  dan keikhlasan untuk menerima apa adanya dengan keterbatasannya merupakan pengalaman baru yang tidak semua peserta live in pernah mengalaminya.

“Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menjadi anggota dari salah satu keluarga sederhana di Desa pentingsari. Melakukan hal yang tidak biasa kami lakukan membuat kami sadar betapa beratnya tanggung jawab orang tua kami. Kami juga semakin disadarkan untuk lebih menghargai apa yang telah kami punyai saat ini. Terima kasih kepada para guru yang telah menyelenggarakan kegiatan sederhana yang penuh makna ini. Tidak perlu kemewahan untuk menjadi bahagia, cukup menjadi sederhana dengan rasa kasih yang tinggi terhadap sesama dan lingkungan di mana kita berada sudah cukup membuat kita menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini.” Itulah bagian penggalan ungkapan kisah refleksi pengalaman live in lain yang tertuang dalam kumpulan feature human interest yang diabadikan sebagai dokumentasi tertulis kisah-kisah pengalaman hidup siswa/siswi SMP Santa Maria yang terlibat langsung dalam dinamika hidup bersama masyarakat desa sejak awal tahun pertama  kegiatan live in diselenggarakan.

Semoga kegiatan live in SMP Santa Maria dapat memberikan makna bagi kita semua, khususnya untuk ikut ambil bagian dalam menumbuhkembangkan pribadi-pribadi muda yang lebih manusiawi, semakin “penuh” menjadi manusia, berguna dan berpengaruh dalam masyarakat, sederhananya pribadi muda yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis, berjiwa pemimpin masa depan, dan berkarakter SERVIAM.

(Ignatius Suhari)

Translate »